
MEDAN – Para remaja putri masih sering kerepotan saat mengalami nyeri haid. Untuk itu, Dosen Institut Kesehatan Helvetia Afrahul Padilah Siregar SST., M.Kes memandang pentingnya penyuluhan untuk menyosialiasikan tindakan yang bisa meredakan nyeri haid.
Pengabdian kepada masyarakat tersebut dilaksanakan di Klinik Ummu Humairah Br Sitepu Tanjung Pura Kabupaten Langkat, pada hari Sabtu, (12/9/2020).
Mengangkat tema “Peningkatan Pengetahuan Tentang Kompres Hangat Untuk Mengurangi Nyeri Haid (Dismenorea) Primer Pada Remaja Putriā, penyuluhan ini diketuai oleh Afrahul Padilah Siregar, SST., M.Kes dengan dibantu anggota: Jitasari Tarigan Sibero, SST., S.Pd., M.Kes, Sitha Paradilla Delarosa, SST., M.Kes, Dina Mifta Larasati dan Krairani Mazidah Rangkuti.

Pengabdian kepada masyarakat ini juga dibantu oleh Pimpinan Klinik Ummu Humairah Br Sitepu.
Afrahul Padilah mengungkapkan, tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang nyeri haid (dismenorea) primer dan meningkatkan keterampilan dalam melakukan penatalaksanaan nyeri haid (dismenorea) primer dengan menggunakan kompres hangat.
“Angka kejadian nyeri menstruasi di dunia sangat besar. Rata-rata lebih dari 50% perempuan di setiap negara mengalami nyeri menstruasi terutama pada kalangan remaja. Kenyataannya masih banyak remaja yang mengabaikannnya tanpa melakukan upaya apapun, padahal banyak cara yang dapat digunakan untuk menghilangkan ataupun menurunkan nyeri menstruasi terutama secara non farmakologi karena tanpa efek samping,” ujarnya.
Sementara itu, Humairah mengatakan, penyuluhan ini penting bagi remaja putri yang kerap mengalami dismenoria.
‘Kompres hangat merupakan salah satu metode dalam menurunkan nyeri haid, karena memberi rasa nyaman/hangat dan tenang, mengurangi sakit/nyeri, memperlancar sirkulasi darah, mengurangi kejang otot dan menurunkan kekakuan tulang sendi. Kompres hangat merupakan terapi yang murah, mudah dilakukan dan aman untuk mengurangi nyeri haid (dismenorea) primer,” ungkap Humairah.
Dengan adanya penyuluhan ini, diharapkan para remaja putri mendapatkan pengetahuan baru, sehingga ke depannya tindakan ini bisa dilakukan saat mengalami nyeri haid. (Adv/SU)










