LITERASI DIGITAL KABUPATEN SIMALUNGUN – PROVINSI SUMATERA UTARA Selasa, 3 Agustus 2021, Jam 09.00 WIB

SIMALUNGUN – Sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia tentang pentingnya Sumber Daya Manusia yang memiliki talenta digital maka Kementerian Komunikasi dan Informatika selain meningkatkan infrastruktur digital, juga melakukan program pengembangan sumber daya manusia talenta digital.

Kemkominfo melalui Direktorat Pemberdayaan Informatika, Ditjen Aptika memiliki target hingga tahun 2024 untuk menjangkau 50 juta masyarakat agar mendapatkan literasi di bidang digital dengan secara spesifik untuk tahun 2021.

Target yang telah dicanangkan adalah 12,5 juta masyarakat dari berbagai kalangan untuk mendapatkan literasi dibidang digital.

Hal ini menjadi sangat penting untuk dilakukan mengingat penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dan Internet saat ini sudah semakin masif dan pentingnya peningkatan kemampuan dan pemahaman masyarakat dalam penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan internet yang benar melalui implementasi program literasi digital di daerah.

Berkenaan dengan hal tersebut, Kemkominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika menyelenggarakan kegiatan Webinar Indonesia Makin Cakap Digital di Wilayah Sumatera di 77 Kab/Kota dari Aceh hingga Lampung.

4 pilar digital yang akan diberikan dalam kegiatan tersebut, antara lain Kecakapan Digital, Keamanan Digital, Etika Digital dan Budaya Digital dimana masing masing kerangka mempunyai beragam tema.

Dalam Literasi Digital yang digelar Selasa, (03/08/2021), sebagai  Keynote Speaker, Gubernur Sumatera Utara yaitu, H. Edi Rahmayadi., memberikan sambutan tujuan Literasi Digital agar masyarakat cakap dalam menggunakan teknologi digital, bermanfaat dalam membangun daerahnya masing masing oleh putra putri daerah melalui digital platform. Presiden RI, Jokowi juga memberikan sambutan dalam mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.

Chika Audhika selaku Co-Founder dan CMO of Bicara Project, pada sesi Kecakapan Digital memaparkan tema “Inclusive Chit-Chat: Tips Menggunakan Aplikasi Percakapan Sosial Media Bagi Difabel”.

Chika menjabarkan media sosial yang ramah disabiltas, meliputi voice note, siri, teks bahasa Indonesia, dan video call. Aplikasi khusus disabilitas, seperti signteraktif, DIFA shop, voice dream reader, be my eyes, dan brailliac bakal.

Memaksimalkan dunia digital untuk teman disabiltas, dengan cara mengadakan seminar, workshop, dan training. Satu-satunya keterbatasan dalam hidup ialah dengan berperilaku buruk. Sekarang ini sangat memudahkan sekali untuk penyandang disabilitas menggunakan aplikasi percakapan media sosial karena melewati literasi digital saat ini banyak aplikasi yang digunakan dengan mudah untuk membantu berkomunikasi penyandang disabilitas kepada orang lain.

Dilanjutkan dengan sesi Keamanan Digital, oleh Ronny H. Mustamu selaku Directur, Quadrant Consulting yang mengangkat tema “Kenali Dan Pahami: Rekam Jejak Digital”.

Ronny menjelaskan untuk era digital sekarang ini sangat banyak sekali informasi yang tersebar melalui social media, banyak juga berita yang belum tentu benar seperti Hoax. Jika masyarakat mendapat sebuah berita atau informasi, masyarakat sebagai penerima jangan sampai hanya membaca melalui judulnya saja tetapi harus pastikan benar isinya seperti apa.

“Judul saat ini sering sekali menggunakan click bait agar masyarakat tertarik untuk membuka berita atau informasi tersebut, jadi benar-benar harus dipastikan lagi cek dan re-check lagi benar atau tidaknya agar tidak menimbulkan kontroversi karena beberapa orang Indonesia sering terpancing berita atau informasi yang belum tentu benar. Kuncinya adalah saring sebelum sharing atau membagikan informasi di media sosial.,” ujarnya.

Kemudian, ada sesi Budaya Digital, yang dibawakan oleh Tiarma Marpaung, S.Pd., M.Pd selaku Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas HKBP Nommensen Medan.

Memberikan materi dengan tema “Internet Addiction: How Much Is That Much?”, Tiarma menjelaskan kecanduan internet untuk era literasi digital ini sekarang sering terjadi karena internet sekarang sudah bergeser menjadi kebutuhan pokok manusia.

Saat ini, banyak orang yang kecanduan internet seperti cybersex, game online, & kecanduan game online yang membuat membuat hidup menjadi boros karena membeli aplikasi-aplikasi yang ada di game.

Contohnya jika sebelumnya internet belum menjadi kebutuhan pokok, masyarakat bangun tidur langsung melakukan aktivitas lain seperti membereskan tempat tidur atau yang lainnya, jika di era sekarang internet yang sudah menjadi kebutuhan pokok bangun tidur langsung membuka media sosial seperti Instagram, tiktok, ataupun youtube.

Agar masyarakat terhindari dari yang namanya kecanduan internet masyarakat harus konsisten dan dapat membagi waktu antara aktivitas di dunia nyata dengan aktivitas di dunia internet.

Narasumber terakhir pada sesi Etika Digital, adalah Beslina Afriani Siagian, S.Pd., M.Si selaku Ketua Gugus Penjamin Mutu FKIP Universitas HKBP Nommensen.

Mengangkat tema “Bebas Namun Terbatas: Berekspresi Di Media Sosial”, Beslina membahas selain di dunia nyata masyarakat juga berinteraksi di dunia maya, masyarakat juga harus menjaga interaksi terhadap orang lain dengan memperhatikan cara bicara, karena masyarakat tidak tau seperti apa dan karakternya bagaimana.

Setiap manusia punya prinsip dan pendapat yang berbeda-beda, sebisa mungkin masyarakat harus saling menghargai, mengerti satu sama lain, dan yang paling pentingnya adalah saling menerima pendapat satu sama lain jadi bisa menyimpulkan semuanya agar aman dan nyaman. Masyarakat harus memastikan informasi atau berita yang didapatkan agar tidak menimbulkan pro dan kontra. Masyarakat juga harus menjaga cara berbicara agar tidak menggunakan kata-kata yang tidak pantas, kotor, kekerasan, atau berbau konten pornografi.

Webinar diakhiri, oleh Nazmia Shahni selaku Entertainer dan Influencer dengan Followers 11,9 Ribu. Nazmia menyimpulkan hasil webinar dari tema yang sudah diangkat oleh para narasumber, berupa sekarang ini sangat memudahkan sekali untuk penyandang disabilitas menggunakan aplikasi percakapan media sosial karena melewati literasi digital saat ini banyak aplikasi yang digunakan dengan mudah untuk membantu berkomunikasi penyandang disabilitas kepada orang lain.

Era digital sekarang ini sangat banyak sekali informasi yang tersebar melalui social media, banyak juga berita yang belum tentu benar seperti Hoax. Jika masyarakat mendapat sebuah berita atau informasi, masyarakat sebagai penerima jangan sampai hanya membaca melalui judulnya saja tetapi harus pastikan benar isinya seperti apa.

Agar masyarakat terhindari dari yang namanya kecanduan internet masyarakat harus konsisten dan dapat membagi waktu antara aktivitas di dunia nyata dengan aktivitas di dunia internet. Masyarakat harus memastikan informasi atau berita yang didapatkan agar tidak menimbulkan pro dan kontra. Masyarakat juga harus menjaga cara berbicara agar tidak menggunakan kata-kata yang tidak pantas, kotor, kekerasan, atau berbau konten pornografi.(SU/CM)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here