LITERASI DIGITAL KABUPATEN LABUHAN BATU – PROVINSI SUMATERA SELATAN Rabu, 1 September 2021, Jam 09.00 WIB

LABUHAN BATU – Presiden Republik Indonesia memberikan arahan tentang pentingnya Sumber Daya Manusia yang memiliki talenta digital. Ditindak lanjuti oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Direktorat Pemberdayaan Informatika, Ditjen Aptika memiliki target hingga tahun 2024 untuk menjangkau 50 juta masyarakat agar mendapatkan literasi di bidang digital dengan secara spesifik untuk tahun 2021.

Target yang telah dicanangkan adalah 12,5 juta masyarakat dari berbagai kalangan untuk mendapatkan literasi dibidang digital. Kemkominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika menyelenggarakan kegiatan Webinar Indonesia Makin Cakap Digital di Wilayah Sumatera di 77 Kab/Kota dari Aceh hingga Lampung.

Dalam Literasi Digital yang digelar Rabu, (01/09/2021), sebagai Keynote Speaker adalah Gubernur Provinsi Sumatera Utara yaitu, H. Edy Rahmayadi., dan Presiden RI Jokowi memberikan sambutan pula dalam mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.

Webinar membahas tentang tema besar Memahami Pentingnya Menjaga Keamanan di Ruang Digital dibawakan oleh para narsum yang mempunyai kompetensi di bidang masing masing serta seorang Key Opinion Leader yang akan memberikan sharing session di akhir webinar.

Zul Ikhwan dari LPT Panghegar mengawali webinar yang memaparkan pentingnya keamanan privasi.

 

“Pelaku kejahatan di dunia maya ada akan melakukan apa saja untuk menghasilkan uang dan berusaha keras denhan kecerdasannya mencari informasi tentang data kita, saat kita terhubung dengan internet dimana konsekuensinya kita membuka diri terhadap lebih banyak jenis kejahatan di dunia maya (mengutip dari Mutya Hafiz – Ketua Komisi I DPR RI),” jelasnya.

 

Maka hindari penyebaran data penting, buat password yang kuat, gunakan fitur keamanan yang ada di device dan akun pribadi.

 

Jejak digital dijelaskan Tresnawati, S.Pd ibarat bom waktu yang siap meledak kapan saja. “Bom” bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang menargetkan pemilik jejak digital. Terlebih lagi apabila pemilik jejak digital mempunyai jejak yang buruk dan bisa merugikan dirinya sendiri. Semua yang diunggah di dunia digital, bahkan yang komunikasi pribadi diambil tangkapan layarnya dan jadi jejak digital.

 

“Ada juga kejahatan lain di dunia maya yaitu sexual harrasement atau pelecehan seksual. Indrawati seorang psikolog menjelaskan pelecehan seksual dapat berupa verbal, visual dan fisik. Kekerasan seksual berawal dari perkenalan dan pertemanan di online (media sosial),” ungkapnya.

 

Maka kita harus selalu waspada dengan kejahatan di dunia maya, kita harus paham bentuk dan cara mengamankan diri di dunia digital. Dio sebagai seorang influencer sering menemukan pelecehan melalui media sosial dan kebanyakan melalui bentuk visual, dan verbal.(SU/CM)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here