LITERASI DIGITAL KABUPATEN LABUHAN BATU – PROVINSI SUMATERA UTARA Senin, 02 Agustus 2021, Jam 13.00 WIB

LABUHAN BATU – Dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang paham akan Literasi Digital, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengadakan kegiatan Literasi Digital untuk mengedukasi dan mewujudkan masyarakat agar paham akan Literasi Digital lebih dalam dan menyikapi secara bijaksana dalam menggunakan digital platform di 77 Kota / Kabupaten area Sumatera II.

Kegiatan ini dilaksanakan mulai dari Aceh sampai Lampung dengan jumlah peserta sebanyak 600 orang di setiap kegiatan yang ditujukan kepada PNS, TNI / Polri, Orang Tua, Pelajar, Penggiat Usaha, Pendakwah dan sebagainya.

4 kerangka digital yang akan diberikan dalam kegiatan tersebut, antara lain Digital Skill, Digital Safety, Digital Ethic dan Digital Culture dimana masing masing kerangka mempunyai beragam tema.

Dalam Literasi Digital yang digelar Senin, (02/08/2021), sebagai Keynote Speaker, Gubernur Provinsi Sumatera Utara yaitu, H. Edy Rahmayadi., memberikan sambutan tujuan Literasi Digital agar masyarakat cakap dalam menggunakan teknologi digital, bermanfaat dalam membangun daerahnya masing masing oleh putra putri daerah melalui digital platform. Presiden RI, Jokowi juga memberikan sambutan dalam mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.

Iwan Setiawan  Founder Asosiasi Punggawa Wirausaha Nusantara membawakan  pilar  keamanan digital dengan tema “Kenali Risiko Menggunakan Aplikasi Ubah Wajah”, menjelaskan bahwa tren mengubah wajah kini semakin banyak digemari oleh pengguna ponsel pintar. Selain menawarkan filter yang menarik, aplikasi merubah wajah ini juga bisa didapatkan secara mudah oleh pengguna.

Aplikasi merubah wajah tentunya dibuat sebagai bentuk hiburan pengguna dalam berekspresi. Namun, pengguna juga harus tahu mungkin ada sebagian orang yang tidak menyukai aktivitas memanipulasi gambar secara digital seperti ini. Hal ini tentunya membuat Anda harus lebih bijak dalam menggunakan aplikasi.

Iwan selanjutnya menerangkan untuk menggunakan aplikasi ubah wajah hanya sebagai hiburan saja dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang ada serta tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku.

Dilanjutkan dengan pilar Kecakapan Digital, oleh Wien Aulia, M.Pd  seorang Pengajar dan Social Activation, yang membawakan  tema “Digital Skills In Action : Sukses Belajar Online Dengan Kemampuan Literasi Digital ”.

Wien secara singkat menerangkan, saat ini ada paradigma baru dalam metode pembelajaran yaitu serba online seperti e assigment, e library, e teacher dan e test, url address. Tujuan Literasi Digital dalam konteks ini adalah pendidik (Guru/Dosen ), orangtua dan peserta didik bisa mengenal dan memiliki kemampuan Literasi Digital.

Ciri dari pembelajaran online menurut Wien antara lain penggunaan elektronik berbasis komputer, penggunaan hardware dan software, jaringan internet, pemanfaatan multimedia dan sebagainya. Untuk pemilihan media belajar perlu adanya pertimbangan ACTION, yakni Accsess, Cost, Technology, Interactivity, Organization dan Novelty. Diakhir pemaparannya, Wien memberikan tips sebagai berikut : disiplin waktu, persiapan perangkat online untuk pembelajaran, dan menjalin komunikasi antara siswa, guru dan orang tua.

Untuk pilar Budaya Digital, dibawakan oleh Jumadi, S.Pd., M.M, selaku Kepala Cabang Dinas Pendidikan Rantaurapat, dengan materi “Literasi Digital Bagi Tenaga Pendidik Dan Anak Didik Di Era Digital”.

Menurut Jumadi, Literasi Digital membentuk konvergensi antara teknologi komunikasi digital yang terkomputerisasi serta terhubung dalam jaringan (daring) internet. Literasi Digital mengembangkan Trisenta Pendidikan yaitu Keluarga, Sekolah dan Masyarakat.

Tantangan Pendidik dan Anak Didik di era revolusi industri 4.0 dijelaskan oleh Jumadi antara lain Literasi Digital, Literasi Teknologi dan Literasi Manusia. Sementara tantangan bagi orang tua dalam era digital adalah akses internet semakin mudah, bebas konekis kemanapun dan orang tua gagap teknologi maka akan berdampak tidak paham resiko dan tidak tahu harus melakukan apa.

Adanya Pandemi Covid mendorong adanya perubahan struktural pendidikan di era digital diantaranya pembelajaran jarak jauh, para pendidik dituntut dinamis dan mampu menciptakan suasana interaktif, menjadikan anak didik memiliki kemampuan untuk melakukan konstruksi pemahaman dari proses eksplorasi.

Narasumber terakhir adalah Dra. Hj. Samsinar, M.Pd, sebagai Ketua MGMP PAI SMP Labuhan Batu, memaparkan di pilar Etika Digital dengan materi “Bijak Sebelum Menggugah Di Media Sosial”.

Samsinar menjelaskan tentang penerapan Digital Ethics yaitu memahami konsep literasi, menjaga privasi orang lain, tidak menggunakan kata vulgar dan menghargai hasil orang lain.

Etika di alam digital menurut Samsinar adalah bijak dalam memilih konten yang akan di posting, tidak mudah terpengaruh dan selalu check and recheck, pemilihan narasi yang edukatif, dan stabilkan emosi saat menggunakan media sosial. Manfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi, sebagai media bisnis di masa pandemi, sebagai media dakwah, belajar dan sebagai media kolaburasi untuk menghasilkan karya positif.

Webinar diakhiri oleh Rini Wulandari, pemenang Indonesia IDOL 2007 sekaligus influencer yang menyimpulkan hasil webinar dari tema yang sudah diangkat oleh para narasumber, antara lain jangan sembarangan untuk menggunakan aplikasi ubah wajah yang akan berdampak negatif, adanya pembaharuan di ranah pendidikan pada masa teknologi digital, dimana orang tua dan guru sangat penting dalam menyikapinya. Sementara dalam menggunakan media sosial harus lebih bijak dan tidak terjebak dengan hal yang negatif.(SU/CM)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here