Upaya Menekan Angka Stunting, Dosen Institut Kesehatan Helvetia Edukasi Para Ibu di Jalan Karya

MEDAN – Kasus stunting masih tinggu di Indonesia, termasuk di Sumatera Utara. Untuk menekan angka stunting, para ibu yang memiliki bayi perlu memiliki pengetahuan soal gizi. Hal itulah yang melatarbelakangi Dosen Instutut Kesehatan Helvetia, Muthia Sari Mardha, SST, M.Kes melaksanakan pengabdian kepada masyarakat

Penyuluhan yang mengambil tema “Pencegahan Stunting dengan Meningkatkan Pengetahuan Ibu tentang Status Gizi” ini dilakukan di Klinik Ratna yang terletak di Jalan Karya Medan, Sabtu (22/8/2020).

Dalam pengabdian kepada masyarakat ini, Muthia Sari Mardha, SST, M.Kes bertindak sebagai ketua pelaksana, dibantu anggota: Ivan Sri Marsaulina, SST, M.Kes, Endriyani Syafitri, SKM, M.Kes, Meliani Siagian dan Monytha Vebrindah Telaumbanua.

Dalam acara yang digelar di Klinik Ratna ini, dihadiri para ibu yang memiliki bayi. Mereka terlihat antusias mengikuti acara yang dibantu oleh Pimpinan Klinik Ratna.

Muthia mengatakan, dengam adanya acara ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan ibu- ibu yang memiliki bayi dan balita, terutama tentang gizi dan menu sehat seimbang.

“Penyuluhan tentang status gizi ini merupakan acara yang sangat penting sekali, terutama bagi para ibu-ibu yang memiliki bayi dan balita agar dapat memahami tentang status gizi dan dampak dari gizi yang kurang. Sehingga dapat mengurangi terjadinya angka stunting,” ujarnya.

Ia menambahkan, jumlah stunting berdasarkan profil kesehatan Sumatera Utara pada tahun 2018 dari 33 kabupaten/kota ada 1,51% balita pendek adapun yang tertinggi terletak di Kabupaten Toba Samosir yaitu 31,5% dan yang terendah ada di Kota Tanjungbalai, yaitu 0,1%.

“Dampak stunting dapat berakibat meningkatnya pengeluaran pemerintah, terutama jaminan kesehatan nasional; ketika dewasa, anak yang mengalami stunting rentan terhadap serangan penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, diabetes, ataupun gagal ginjal. Selain itu, stunting dapat menghambat bonus demografis Indonesia di mana rasio penduduk usia tidak bekerja terhadap penduduk usia kerja menurun,” jelas Muthia.

Ia juga mengungkapkan, stunting juga menjadi ancaman pengurangan tingkat intelejensi sebesar 5-11 poin, sehingga hal inipun menjadi ancaman masyarakat di Indonesia.

Pimpinan Klinik Ratna menilai bahwa acara yang dilaksanakan pada sangat bagus. “Dan acara ini sangat diharapkan, khususnya kepada para ibu yang memiliki bayi. Karena masih banyak ibu-ibu yang merasa bahwa berat badan dan tinggi badan anaknya sudah ideal dan pemberian makan yang mereka berikan sudah sesuai. Dengan melakukan penyuluhan tentang status gizi ini dapat meningkatkan kesadaran mereka tentang pentingnya pemberian pola makan dan pola asuh yang tepat kepada anak,” ujarnyam

Dalam kesempatan ini, para peserta yang terdiri dari ibu-ibu yang memiliki bayi dan balita merasa sangat senang sekali dan begitu antusias. Apalagi dengan adanya doorprize yang dibagikan kepada para peserta yang dapat menjawab pertanyaan yang diberikan. (Adv/SU)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here