LITERASI DIGITAL KABUPATEN SIMALUNGUN – PROVINSI SUMATERA UTARA Senin, 02 Agustus 2021, Jam 13.00 WIB

SIMALUNGUN – Dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang paham akan Literasi Digital, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengadakan kegiatan Literasi Digital untuk mengedukasi dan mewujudkan masyarakat agar paham akan Literasi Digital lebih dalam dan menyikapi secara bijaksana dalam menggunakan digital platform di 77 Kota / Kabupaten area Sumatera II.

Kegiatan ini dilaksanakan mulai dari Aceh sampai Lampung dengan jumlah peserta sebanyak 600 orang di setiap kegiatan yang ditujukan kepada PNS, TNI / Polri, Orang Tua, Pelajar, Penggiat Usaha, Pendakwah dan sebagainya.

4 kerangka digital yang akan diberikan dalam kegiatan tersebut, antara lain Digital Skill, Digital Safety, Digital Ethic dan Digital Culture dimana masing masing kerangka mempunyai beragam tema.

Dalam Literasi Digital yang digelar Senin, (02/08/2021), sebagai Keynote Speaker, Gubernur Provinsi Sumatera Utara yaitu, H. Edy Rahmayadi., memberikan sambutan tujuan Literasi Digital agar masyarakat cakap dalam menggunakan teknologi digital, bermanfaat dalam membangun daerahnya masing masing oleh putra putri daerah melalui digital platform. Presiden RI, Jokowi juga memberikan sambutan dalam mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.

Awal pemaparan dibuka oleh Anasthasia Citra, M.Si, seorang praktisi dan akademisi komunikasi Universitas Presiden, yang membawakan  pilar  Kecakapan Digital.

Memaparkan tema “Paperless Transaction : Akses Dan Fitur Transaksi Digital”, Anasthasia menjelaskan bahwa selama adanya Pandemi, transaksi digital (e commerce) meningkat sangat pesat 400%, uang elektronik naik 24,42% bahkan penipuan online juga ikut meningkat.

Contoh fitur transaksi digital antara lain Pay Later, M Banking, E Wallet dan sebagainya. Keuntungan dari transaksi ini adalah cepat, praktis, banyak promo dan lain lain. Tapi ada juga kelemahannnya diantaranya boros, hutang bertambah, pencurian data pribadi, dan perlu diketahui bahwa penipuan online merupakan kasus kejahatan siber nomor dua setelah penyebaran konten provokatif (kompas.id).

“Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan antara lain cek identitas penjual, akunnya, cek review, lihat harganya, jangan memberikan OTP dan sebagainya,” ujarnya.

Dilanjutkan dengan pilar Keamanan Digital, oleh Pati Perkasa, selaku Creator Digital, dan CEO of Instereo Radio Consultant dengan tema “Memahami Aplikasi Keamanan Dn Pertahanan Siber Di Dunia Digital”.

Pati secara singkat menjabarkan 7 (tujuh) langkah aman di dunia digital agar akun kita selamat dari hal hal yang tidak diinginkan.

Yang pertama Jangan berikan nomer telpon, nama lengkap, nomer KTP hingga alamat anda kepada sembarang orang. Kedua membuat kombinasi password yang sulit, karena 90% Peretasan akun terjadi karena kombinasi password yang terlalu mudah. Ke tiga selalu cek kredibilitas sebuah link website, hal yang paling mudah adalah dengan melihat salah satu ciri yang paling mudah yaitu memiliki ikon gembok atau ada “https” sebelum linknya. “S” disini berarti “SECURE” dan icon gembok berarti website ini sudah dinyatakan aman oleh browser kita.

Untuk yang ke empat yaitu hindari link yang mencurigakan (biasanya pancingan seperti hadiah, kuis dan sebagainya). Kelima jangan lupa selalu update software, Jangan tunda jika ada notifikasi software baru di perangkat anda.

Ke enam yaitu perhatikan akses privacy setting dari aplikasi-aplikasi yang kita unduh. Yang ke tujuh waspada dengan wifi publik, Kita harus selalu waspada jika ada free wifi yang meminta kita memasukkan data pribadi kita sebelum digunakan. Biasanya free wifi ini menjadi alat untuk mencuri data pribadi kita. Selain itu juga non – trusted free wifi ini bisa hack perangkat kita untuk mengirimkan malware dan virus.

Di pilar Budaya Digital, dibawakan oleh Dr. Jumaria Sirait, M.Pd seorang Dekan FKIP UHN. Dr.

Memberikan materi “Digital Sebagai Sarana Meningkatkan Pengetahuan Warisan Budaya”, Dr. Jumaria menjelaskan, literasi digital sebagai sarana meningkatkan pengetahuan             akan warisan budaya, baik di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Upaya untuk memiliki literasi yang baik, harus dimanfaatkan dengan fasilitas yang ada yaitu era digital.

Budaya membaca sudah berbeda dengan era sebelum digital muncul. Kita dapat belajar lewat internet mengenai budaya Indonesia dengan cepat dimana saja        dan kapan saja melalui gadget. Dengan internet, kita mampu menjangkau informasi dari daerah yang sulit tentang sosial dan budayanya.

Narasumber terakhir adalah Lundu Tamba, S.Pd seorang guru SMPN  09 Pematang Siantar, yang memaparkan pilar Etika Digital dengan membawa tema “Digital Ethics Issue & Technology Use”.

 

Lundu menjelaskan Etika dalam teknologi adalah sebagai analisis mengenai sifat dan dampak sosial teknologi komputer, serta formulasi dan justifikasi kebijakan untuk menggunakan  teknologi tersebut secara etis. Etika Teknologi Informasi adalah seperangkat asas atau nilai yang berkenaan dengan penggunaan teknologi informasi.

 

Menurut Richard Masson, masalah etika Teknologi Informasi diklasifikasi menjadi tiga hal sebagai berikut berikut Privacy, Property dan Akses. Bagaimana menjaga privasi individu, yaitu dengan melakukan perlindungan seperti tidak mengaktifkan share loc, jangan telalu ekspos data pribadi di medsos, rahasiakan password dan lain lain.

 

Untuk Property, yaitu kebebasan berekspresi, kekayaan Intelektual (karya seni, foto atau gambar) dengan mencantumkan nama penciptanya, meminta ijin dahulu sebelum share dan sebagainya. Yang terakhir yaitu Akses, berikan perlindungan dengan cara selalu menggunakan anti virus, passowrd yang kuat, tidak sembarangan mengunduh aplikasi dan lain sebagainya.

 

Webinar diakhiri, oleh Sri Ayu Wahyuni, S.Pd seorang Influencer. Sri menyimpulkan hasil webinar dari tema yang sudah diangkat oleh para narasumber, antara lain e money saat ini adalah pembayaran yang cukup aman dalam bertransaksi online, untuk keamanan akun kita maka sebaiknya dijaga dengan cara 7 langkah yang dipaparkan oleh Pati. Budaya membaca melalui internet merupakan hal yang dapat memudahkan Kita dalam mendapatkan tambahan ilmu, karena dapat mengakses data dimana saja dan kapan saja. Terakhir Sri menambahkan tentang Etika dalam beraktifitas di media sosial dimana jangan sampai terjebak dan selalu bijak dalam menyikapi suatu isu.(SU/CM)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here