
MEDAN – Tilang elektronik atau Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) resmi diluncurkan secara nasional, pada Maret lalu.
Penerapan ETLE dilakukan secara bertahap di daerah-daerah, termasuk di Medan.
“Ke depannya secara bertahap akan kita kembangkan menjadi 34 provinsi, dan setiap Ibu Kota, Kabupaten, Kota Madya, nanti akan kita gelarkan,” kata Listyo.
Di Medan, baru satu titik yang dipasangi kamera ETLE, yakni di sekitar Lapangan Merdeka Medan, tepatnya di depan Balai Kota.
Tim Sumut Update pun turun ke lapangan untuk mengetahui tanggapan masyarakat tentang program ETLE ini.
Penerapan ETLE mendapat komentar beragam dari masyarakat. Banyak yang menyambut positif, dikarenakan dapat menyadarkan masyarakat untuk disiplin berlalu lintas.
Seorang sopir ojek online, Nurizal menyambut baik penerapan ETLE ini. “Menurut saya bagus kalau diterapkan di Medan, supaya pengendara jadi disiplin berlalu lintas. Jadi jangan hanya ada petugas baru mereka tertib,” ujarnya.
Jadi, tambahnya, dengan adanya ETLE, mereka lebih berhati-hati, karena akan takut ditilang.
Seorang pekerja seni, Hafiz mengungkapkan bahwa penerapan ETLE dapat mencegah pungli yang masuk dalam kategori korupsi.
“Selain itu, mengurangi pengendara yang sembrono melanggar lalu lintas yang tidak terpantau polisi,” ungkapnya.
Namun yang membuat bingung, jika penilangannya melalui elektronik bagaimana sistemnya. “Di Indonesia kan banyak STNK yang bukan nama sendiri. Nah ini bagaimana? Seperti ini yang jadi rancu,” ujar Hafiz kepada tim Sumut Update.
Tanggapan positif juga diungkapkan Putra, seorang karyawan. Menurutnya, penerapan ETLE bukan hanya sebatas penilangan elektronik. Tapi dampaknya lebih dari itu.
“Saya sebagai orang awam menilai, efek penerapan ETLE ini bisa menekan angka kriminalitas di jalanan. Bukan sekedar mendisplinkan pengguna jalan. Dengan adanya ETLE ini saya kira bisa membuat para pelaku kejahatan jalanan takut untuk beraksi,” ucapnya.
Namun, ia berharap, pelaksanaan program ini jangan hanya wacana saja. Namun terus dijalankan agar Indonesia ini bisa lebih maju.
“Kita gak mau program ini supaya menurunkan anggaran saja. Pembelian alatnya kan gak murah. Harusnya terus berjalan dan masyarakat dapat merasakan dampak kemajuan di sisi lalu lintas,” tambahnya. (SU/PS)










